sudah satu tahun semenjak aku berburu sekolah,saat itu aku masih mencari sekolah favorit yang bisa kumasuki dengan bobot nilai yang aku punya. Waktu kini terasa begitu cepat, cepat sekali .....secepat detak jantungku saat menulis barisan-barisan paragraf di blog ini.
begitu banyak yang telah kulalui selama 1 tahun belakangan ini. Dimulai dari tawa, tangis, bingung, dan tak ketinggalan ..."galau". setiap rasa yang kualami memiliki cerita masing- masing...
*flashback
Saat itu tahun ajaran baru di SMAN 1 Balikpapan, murid-murid kelas X membentuk serentetan barisan di lapangan basket sekolah. Panas terik yang menyinari tak mengubah semangat para murid baru untuk berkompetisi di sman 1 yang terkenal sebagai sekolah yang patut diacungi jempol di Kalimantan Timur. Dengan rambut yang dikepang tiga serta kantung plastik besar berwarna merah dan kuning yang kukaitkan di kanan -kiri pinggangku ,aku berdiri di tengah-tengah kerumunan siswa-siswi baru itu. Adapula tas yang melingkari tubuhku terbuat dari kantung plastik besar berwarna kuning dengan tali yang tebuat dari tali rapia yang dikepang .
Didepanku, berdiri para senior yang menjabat sebagai Ketua OSIS serta bawahan-bawahannya. Hari itu kupandangi mereka satu persatu, beberapa diantara mereka memiliki raut wajah yang pernah kukenal sebelumnya. Aku baru saja menyadari beberapa senior yang berdiri disitu adalah kakak kelasku semasa SMP dulu.Mereka terihat berbeda sekarang, dengan seragam abu-abu lengkap yang mereka kenakan membuat mereka tampak jauh lebih dewasa dibanding kami yang masih mengenakan seragam putih biru
Setelah dijemur berkali -kali di bawah panasnya mentari, kami dididik untuk berlaku sopan dan santun kepada para senior dan guru- guru SMAN 1 selama kegiatan MOS dilaksanakan. Setiap harinya, kami berkeliling mencari tanda tangan agar tak dihukum oleh para senior "galak" yang selalu mengawasi kami. Pada hari pertama kami diajak untuk memperkenalkan diri didepan kelas dan menunjukkan keahlian kami di depan para siswa-siswi baru yang lain didalam kelas. Sebenarnya, saat itu aku sangat malu karena aku yakin saat maju ke depan, pasti mereka memandangiku dengan tampang aneh karena tidak mengenal satu sama lain. Kebetulan kelas kami bernama "apollo" -yang sekarang dikenal sebagai X-1. Hari berikutnya kami diperintah selalu mengenakan karton yang digantungkan didada dan punggung yang bertuliskan nama dan profil kami serta foto berukuran besar dengan pose marah. Selama pemeriksaan kelengkapan MOS , ada beberapa siswa yang dikerjain, dan aku termasuk salah satunya. Di hari terakir (perlu diketahui MOS pada waktu itu berlangsung selama 3 hari), kami diperintah untuk membawa makanan dan minuman yang diperintahkan oleh para senior. Di hari itu kami dikerjai habis-habisan, adapula yang menangis karena kejadian itu. Beberapa yang lain malah tertawa. Kami diperintah untuk meluruskan tangan dan menutup mata, selama mereka memeriksa kami. Rasa pegel yang kurasakan dibagian lengan atasku selama pemeriksaan itu, membuatku jengkel sekali. Mungkin pemeriksaan itu berlangsung 15 menit dan sialnya kami tidak diperbolehkan menurunkan tangan kecuali benar -benar lelah, tetapi setelah menurunkan tangan kami harus meluruskannya kembali di hadapan dada. Sempat aku berpikir bahwa kami terlihat seperti sekumpulan anak bodoh yang hanya bisa menuruti para senior.
Dengan mata yang tertutup, aku mendengar para seniorku mendendangkan lagu perdamaian, dan kami diperbolehkan membuka mata.Akhirnya, semua lelahku selama ini berakhir sudah. Dihari itu kami resmi menjadi siswa-siswi SMAN 1 Balikpapan. Para senior OSIS meminta maaf pada kami atas segala yang telah mereka lakukan pada kami selama MOS. Didalam hati kecil, aku berkata "aku pikir mereka benar-benar galak, ternyata tidak, itu semua mereka lakukan untuk memberikan kesan MOS yang berarti bagi kami semua. Dan sekarang aku mengerti mengapa mereka melakukan semua itu......
Tiga hari telah berlalu, seiring berakhirnya MOS di sekolah kami.
Selama 1 semester pertama, aku duduk dengan teman sebangku bernama "Dea Yulia", aku senang bisa duduk dengannya. Saat pembagian ekstrakulikuler tiba, aku memutuskan untuk memasuki Olimpade Biologi. Dipikiranku saat itu, aku hanya ingin melanjutkan perjuangan Olimpiadeku yang belum selesai di SMP dulu. Selam satu semester pertama, aku banyak begadang demi mendapatkan nilai bagus . Sekarang aku tahu, perjuanganku tidak sia-sia.....
to be continued....
No comments:
Post a Comment